Timur Tengah Mulai Bersatu, Bukti Pengaruh AS Kian Pudar?

This handout picture provided by the Iranian foreign ministry shows Iran's Foreign Minister Hossein Amir-Abdollahian (R) and Saudi Foreign Affairs Minister Prince Faisal bin Farhan (L) meeting in Beijing on April 6, 2023. - The foreign ministers of Middle East rivals Iran and Saudi Arabia met in Beijing, paving the way for normalised ties under a surprise China-brokered deal. (Photo by Iranian Foreign Ministry / AFP) / === RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT

Sebuah tren baru muncul dalam peta politik Timur Tengah (Timteng). Kali ini, beberapa negara di wilayah itu mulai mempersatukan kembali hubungan yang sebelumnya telah retak akibat ketegangan politik.

Terbaru, Qatar dan Bahrain sepakat untuk membuka kembali hubungan diplomatik setelah jaringan semacam itu dibekukan pada 2017 lalu. Selain itu, Tunisia juga setuju untuk menormalisasi hubungan diplomatik dengan Suriah semenjak terputus pada saat Damascus dilanda peperangan.

Lalu apa yang melatarbelakangi perdamaian keduanya ini?

Perdamaian antara negara-negara Arab tersebut terjadi setelah Arab Saudi dan Iran, dua negara penting di kawasan, memutuskan untuk kembali membuka layanan diplomatik.

Pemulihan hubungan antara Saudi dan Iran sendiri telah menimbulkan gema baru dalam geopolitik Timur Tengah. Pasalnya, Iran merupakan negara yang cukup berseberangan di dunia Arab, dengan mendukung pihak seperti pemberontak Houthi Yaman, rezim Presiden Bashar Al Assad Suriah, dan juga Hizbullah di Lebanon.

Dukungan Iran ini sendiri tidak lepas dari latar belakang para kelompok yang dianggap Saudi sebelumnya berseberangan itu. Tercatat, baik Houthi, Assad, maupun Hizbullah memiliki latar belakang syiah, di mana Teheran merupakan konsentrasi besar kelompok tersebut.

Di sisi lain, permusuhan Saudi terhadap Iran dan satelitnya itu juga diamini sekutu dekatnya, Amerika Serikat (AS). Washington bahkan telah menjatuhkan sanksi terhadap Iran dan Suriah serta membantu Saudi menyediakan senjata untuk menyerang Houthi di Yaman.

Hubungan Saudi dan Iran kemudian terputus pada 2016 lalu saat Riyadh memutus jalur diplomatik dengan Iran. Ini disebabkan penyerangan para demonstran di Teheran terhadap kedutaannya, yang mana saat itu para pengunjuk rasa memprotes kebijakan negara itu yang mengeksekusi ulama syiah terkemuka, Nimr Al Nimr.

Panasnya hubungan Riyadh dan Teheran juga sempat berdampak bagi Qatar. Pada 2017 lalu, Saudi dan sekutunya seperti UEA dan Bahrain memutuskan hubungan diplomatik dengan Doha, di mana salah satu alasannya adalah kedekatan Qatar dengan Iran.

Seluruhnya kemudian berubah pada Maret 2023 ketika China berhasil mendamaikan Riyadh dan Teheran. Keduanya bahkan telah mengundang pemimpin satu sama lain dan telah membuka layanan diplomatik di dua ibukota.

Diplomat paling senior China, Wang Yi, mengatakan bahwa Beijing akan terus memainkan peran konstruktif dalam menangani masalah hotspot dan menunjukkan tanggung jawab sebagai negara besar.

“China sebagai mediator yang beritikad baik dan dapat diandalkan, telah memenuhi pekerjaannya sebagai tuan rumah dialog,” tuturnya.

Ini akhirnya menciptakan efek domino baru. Saudi akhirnya berdamai dengan Suriah, Qatar menormalisasi hubungan dengan Bahrain, dan bahkan, Riyadh sepakat untuk mengadakan diskusi dengan kelompok Houthi Yaman agar dapat menciptakan kesepakatan damai.

SIKAP AS

Washington belum secara terbuka dan jelas menyatakan sikapnya terkait perdamaian ini. Namun Wall Street Journal melaporkan bahwa melalui Direktur Badan Intelijen Pusat (CIA), Bill Burns, AS mengungkapkan ketidaksenangan Washington pasca rekonsiliasi Arab Saudi dengan Iran.

Sumber yang mengetahui masalah ini melaporkan bahwa dalam pertemuan Burns dengan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MBS), AS merasa ‘dibutakan’ oleh pemulihan hubungan kerajaan dengan Iran dan sekutunya Suriah.

“Washington merasa frustasi karena tidak dilibatkan dalam perkembangan regional dan akibatnya merasa dikesampingkan,” ujar seorang sumber menggambarkan terkait pertemuan Burns dengan MBS dikutip Middle East Monitor.

Beberapa analis mengatakan bahwa ini merupakan bukti semakin kuatnya peran China pada arena politik global, yang notabenenya merupakan rival AS. Mantan pejabat senior AS dan PBB Jeffrey Feltman mengatakan peran China dalam perdamaian itu adalah aspek paling signifikan dan menjadi bukti kekalahan Washington.

“Ini akan ditafsirkan, mungkin secara akurat, sebagai tamparan pada pemerintahan Biden dan sebagai bukti bahwa China adalah kekuatan yang sedang naik daun,” kata Feltman, yang juga seorang peneliti di Brookings Institution.

DAMPAK EKONOMI

Perdamaian kedua negara sendiri diprediksi akan membawa kabar baru bagi industri energi dunia. Pasalnya, Timteng merupakan wilayah yang memiliki deposit minyak yang sangat besar.

Saudi dan Iran merupakan anggota dari Organisasi Pengekspor Minyak atau OPEC. Organisasi ini dalam beberapa bulan belakangan menjadi sorotan lantaran memotong produksi minyaknya, sebuah sesuatu yang berseberangan dengan kemauan AS di tengah lonjakan harga energi pasca perang Rusia-Ukraina.

Menurut lembaga riset Kpler, Kesepakatan antara Houthi dan Riyadh juga dapat mengarah pada dimulainya kembali ekspor minyak Yaman. Namun, ini tidak akan menjadi pengubah permainan untuk pasar mengingat keadaan infrastruktur minyak Yaman, tingkat cadangan minyaknya yang relatif rendah, dan fakta bahwa perang saudara tidak mungkin berakhir bahkan setelah kesepakatan dengan Saudi.

China, yang membantu menengahi kesepakatan itu, adalah pemenang lain dari pemulihan hubungan Saudi-Iran. Yang terpenting, perdamaian itu membuat Selat Hormuz dan Teluk Aden lebih aman, titik kritis bagi Beijing, yang setiap harinya menjadi checkpoint pertama 37% minyak lintas laut global.

“Tahun ini, minyak Iran dan Saudi mewakili 22% dari pasokan minyak lintas laut China,” ujar lembaga itu.

Meski begitu, Kpler mengatakan perdamaian ini secara keseluruhan tidak akan membawa dampak signifikan bagi pasar minyak global. Pasalnya, AS masih terus menjatuhkan sanksi terhadap Teheran.

Selain minyak, pemulihan hubungan antara Iran dengan Saudi juga dapat membawa investasi baru masuk ke Negeri Persia. Pasalnya, sanksi Barat dan pembekuan hubungan diplomatik dengan Saudi, jumlah investasi yang masuk di negara itu sangat kecil.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*